opacity: 0.1;

Rabu, 07 Maret 2018


BSD – Kata “Tardigrada” sepertinya masih kurang familiar terdengar di telinga kita. Tapi tahukah kamu, bahwa tardigrada merupakan makhluk terkuat di Bumi? Sering dikatakan bahwa jika bencana apokaliptik besar menimpa Bumi, maka satu-satunya yang tersisa adalah kecoak. Namun faktanya, ada makhluk lain yang jauh lebih tangguh di planet kita ini. Dan ia masih akan bertahan hidup lebih lama setelah kecoak musnah, makhluk tersebut adalah tardigrade alias tardigrada.
Dikatakan bahwa serangan asteroid raksasa, supernova, hingga paparan sinar gamma pada bumi bukanlah masalah bagi hewan ini. Selain merupakan organisme teraneh yang diketahui sains, tardigrada juga merupakan makhluk tak terkendali yang bisa berubah menjadi kaca. Ya, kamu tidak salah baca—berubah menjadi kaca. Selain itu, tardigrada juga mampu bertahan dalam ruang hampa udara yang dingin.
Kazuhara Arakawan selaku Ahli Biologi dari Universitas Keio—yang juga merupakan spesialis Tardigrada—cukup beruntung menemukan spesies baru Tardigrada. Saat meraup sampel lumut dari tempat parkir gedung untuk dianalisis, Kazuhara Arakawan tengah menyewa sebuah apartemen di kota Tsuruoka. 
Tardigrada yang juga dijuluki “Beruang Air” (Water Bear) ini biasanya memang tinggal di lumut atau serasah daun/pupuk. Dalam pemeriksaan di laboratorium, terdapat 10 metazoa (hewan bersel banyak) mikroskopis yang berada di dalam sampel. Kesepuluhnya pun diekstrasi dan dipindahkan dalam lima cawan terpisah, yang artinya terdapat lima pasang metazoa.
Salah satu pasangan tersebut berkembangbiak dalam cawan. Dengan analisis mikoskopis dan genomic, terungkaplah mengenai spesies baru Tardigrada ini yang kemudian diberi nama Macrobiotus shonaicus. Masih satu famili dengan Macrobiotus hufelandi.
Apa yang Beda?

Lantas, apa yang membedakan spesies baru ini dengan spesies-spesies sebelumnya? Telurnya. Telurnya, yang menampilkan tonjolan berbentuk piala yang di atasnya dilengkapi dengan filamen mirip mie, juga sangat tidak biasa.
“Sebagian besar spesies tardigrade memang digambarkan berasal dari lumut, sehingga setiap bantalan lumut akan tampak menarik bagi orang yang  bekerja meneliti tardigrade,”beber Arakawa.
“Sangat mengejutkan menemukan spesies baru di sekitar apartemen saya!” tambah sang ahli biologi tersebut.
Telur M. shonacius mempunyai permukaan padat dan filamen fleksibel yang menonjol keluar, ini hampir serupa dengan dua spesies sebelumnya, Macrobiotus paulinae dari Afrika dan Macrobiotus polypiformis dari Amerika Selatan.

Sebenarnya, di antara lebih dari 1.200 spesies secara keseluruhan yang dikenal dalam filum tardigrada, M. shonaicus adalah spesies tardigrada ke-168 yang diidentifikasi di Jepang.
“Kami masih perlu menyelidiki lebih luas di sekitar Jepang dan Asia untuk memahami keragaman ‘kompleks’ ini dan bagaimana spesies ini beradaptasi dengan lingkungan setempat,” ujar Arakawa kepada ScienceAlert.
Selain telurnya, hal lain yang juga membedakan M. shonaicus adalah makanannya. Untuk ‘memelihara’ mereka dalam cawan, para peneliti memberi makan alga. Padahal, sebagian besar spesies Macrobiotidae merupakan karnivora, yang umumnya memakan rotifera (sejenis zooplankton atau kerang muda).
Ada pun dalam hal s*eks, Arakawa menjelaskan bahwa M. shonaicus merupakan hemaprodit (memiliki dua jenis kelamin). Berbeda dengan Tardigrada lain yang dapat dikultur di laboratorium dan sebagian besar bersifat partenogenetik (betina bereproduksi sendiri tanpa populasi laki-laki).

“Jadi, ini adalah model ideal untuk mempelajari mesin reproduksi seksual dan perilaku tardigradea,” lanjut Arakawa.


Mengalahkan Kematian?
Arakawa juga menuturkan bahwa apa yang benar-benar menarik perhatian kita tentang Tardigrada ialah kemampuan menakjubkan mereka untuk mengalahkan kesengsaraan lingkungan—bahkan mungkin kematian? Sampai pada tingkat fisiologis, para ilmuwan masih belum bisa sepenuhnya memahami bagaimana hewan kecil itu bisa tercipta begitu kuat.
Tardigrada memang bisa kehilangan semua cairan tubuhnya saat lingkungan mengering. Dalam keadaan ini, Tardigrada tidak melakukan biokimia dan tidak memiliki metabolisme.
“Namun mereka hidup kembali dengan cepat setelah rehidrasi. Hal ini menantang pemahaman saat ini tentang kehidupan dan kematian,” tandas Arakawa.
Temuan ini telah dilaporkan dalam jurnal PLOS One.
Sedangkan dalam laporan NationalGeographic.co.id, tardigrada yang habitat aslinya hidup di air ini termasuk binatang invertebrate. Ia sungguh tangguh karena mampu bertahan hidup di segala kondisi dengan suhu yang seharusnya bisa membunuh makhluk hidup lain. Jika benar makhluk berkekuatan super itu ada, binatang ini patut menyandang gelar tersebut.
Habitat hewan ini sebenarnya di air. Namun, jika cuaca berubah secara ekstrim, ia terpaksa harus berubah bentuk. Dengan mengganti cairan di seluruh tubuhnya dengan gula trehalose, tardigrada berhasil selamat dengan hidup di lingkungan kering tanpa air.
Diutus ke Luar Angkasa

Seolah itu belum cukup, ilmuwan ternyata telah mengetahui kekuatan si kecil tardigrada sejak lama. Buktinya, si kecil berwarna pink ini menjadi salah satu hewan yang diutus ke luar angkasa dalam penerbangan ujicoba menggunakan kapsul FOTON-M3 di tahun 2007. Kendati spesies hewan lain yang turut dikirim tidak berhasil selamat, tardigrada menjadi satu-satunya yang berhasil kembali ke Bumi dan bertahan dari sinar kosmis dan radiasi ultraviolet yang mematikan.
Binatang ini juga tercatat sebagai binatang yang sudah eksis bahkan sebelum manusia pertama di Bumi hidup! Dengan hebatnya kekuatan super hewan mungil ini, peneliti mulai menduga: apakah binatang ini juga kelak akan menjadi organisme terakhir di muka Bumi?
14.14.00   Posted by Anita Surya in , with No comments

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search