opacity: 0.1;

Jumat, 09 Maret 2018


BSD –  Seorang warga Lampulo Banda Aceh bersama sejumlah rekannya rela mengabdikan diri tanpa pamrih untuk mendirikan Taman Edokasi Anak Pemulung. Maulidar (26), demikian nama wanita tersebut, tak ingin semangat belajar untuk meraih cita-cita anak pemulung hanya berakhir terkubur sampah. Ia dan rekan-rekan lantas membangun Taman Edokasi Anak Pemulung yang merupakan wadah pendidikan khusus untuk anak pemulung yang tinggal di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gampong Jawa, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.
“Saya prihatin dengan kehidupan anak pejuang lingkungan. Maksudnya pemulung itu bagi saya adalah pejuang lingkungan. Tapi hidup mereka sangat memprihatinkan, makanya saya termotivasi untuk memberikan pendidikan kepada anak pemulung,” 
Ada pun yang menjadi landasan motivasi Maulidar dalam mendirikan Taman Edokasi Anak Pemulung ini berawal setelah ia melihat langsung kondisi tempat tinggal keluarga para pemulung. Sebelumnya, tak pernah terbayangkan olehnya akan ada warga di Kota Banda Aceh yang bisa bertahan hidup di permukiman kumuh dengan kondisi serba keterbatasan seperti yang dihadapi anak-anak pemulung tersebut.
“Saya asli warga Banda Aceh, tapi baru pertama sekali datang ke permukiman pemulung tahun 2012, karena waktu itu ada tugas dari LSM untuk mencari sebuah desa binaan. Setelah melihat kondisi tempat tinggal dan anak mereka, saya termotivasi untuk membantu mereka,” ucap Maulidar.
Lantaran saat itu Maulidar masih berstatus mahasiswa, ia tak mampu memberikan bantuan berupa materi untuk meringankan beban hidup para pemulung. Sehingga bersama sejumlah rekannya, ia lantas memilih untuk mengabdikan diri mengajar secara gratis kepada anak-anak pemulung.
Waktu belajar diambil pada sore hari karena agar mereka tidak ikut orang tuanya memungut sampah.
“Anak-anak yang sebelumnya pulang sekolah ikut bersama orang tua memungut botol atau barang bekas kami ajak untuk belajar, kami ajarkan semua mata pelajaran, mulai dari mengaji, menghafal doa, menulis, berhitung, dan bahasa Inggris,” lanjutnya.
Ia juga sangat bersyukur karena kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakannya bersama para rekan tersebut berjalan lancar—para pejuang lingkungan yang masih anak-anak itu terlihat sangat antusias.
“Dan, alhamdulillah anak-anak sangat antusias, orang tua mereka pun sangat mendukung,” ujarnya.
Sejak tahun 2012 sampai sekarang, minat anak-anak pemulung yang ikut bergabung untuk belajar di “Taman Edokasi Anak Pemulung” terus meningkat setiap tahunnya.
Saat ini, setidaknya sudah ada 80 anak yang rajin bersekolah, mulai dari usia dua tahun hingga SMA yang diajari oleh lebih dari 100 orang relawan. Seluruh relawan ini berasal dari berbagai macam latar belakang disiplin ilmu yang semakin memperkaya sumber daya manusia tim pengajar di Taman Edokasi Anak Pemulung.
“Minat anak yang belajar terus meningkat, kemudian relawan pun terus bertambah. Saya ada buat grup WA (WhatsApp), semua anggotanya adalah tenaga pengajar, mereka yang mengajar pun tidak dibayar, hanya pengabdian,” tuturnya.
Fokus Pada Dunia Pendidikan
Walaupun “Taman Edokasi Anak Pemulung” sudah lima tahun terbentuk, namun hingga kini para relawan masih mengajarkan anak-anak di ruang terbuka dengan lantai tanah beralaskan tikar seadanya. Kegiatan belajar mengajar ini kerap diselenggarakan di kawasan Pemukiman Pemulung Gampong Jawa.
“Lokasi belajar di ruang terbuka, sesekali di bantaran sungai, kalau hujan di teras rumah warga mana yang kosong, gitu aja dari dulu,” imbuh Maulidar.
Karena dari awal terbentuk “Taman Edokasi Anak Pemulung” berfokus pada dunia pendidikan, hingga kini mereka tak pernah mengajukan permohonan bantuan ke pihak manapun. Namun jika ada pihak yang ingin membantu untuk anak asuhnya itu, pintu mereka tentu terbuka lebar. Bagi yang tersentuh hatinya bisa datang dan langsung menyalurkan kepada mereka.
“Sampai saat ini kami belum ada kas, dan tidak mau kami buat rekening, karena orientasi kami khusus pendidikan untuk mengajarkan mereka. Selama ini memang sudah ada yang memberikan bantuan, mereka kami suruh datang langsung ke sini untuk menyerahkan,” terangnya.
Meski proses belajar dan mengajar  mereka lakukan di ruang terbuka, dengan kondisi alas tikar seadanya di lantai tanah, namun anak-anak tetap belajar dengan suasana penuh gembira. Bahkan selama belajar di Taman Edokasi Anak Pemulung di Gampong Jawa, sejumlah anak pemulung juga berhasil meraih prestasi di sekolah mereka.
“Kami senang bisa bersama anak-anak ini, cara mengajarkan mereka pun bebas, tidak ada kurikulum yang baku, sehingga proses belajarnya menyenangkan. Alhamdulillah ada beberapa dari mereka sudah mendapat prestasi di sekolah, ada yang dapat ranking 2, 3 dan 5, kami sangat bangga,” pungkas Maulidar.

15.31.00   Posted by Anita Surya in , with No comments

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search