opacity: 0.1;

Jumat, 09 Maret 2018


BSD – Seorang ilmuwan mengklaim telah berhasil memecahkan misteri keberadaan pelopor pilot penerbangan solo—dan ia merupakan seorang wanita—yang legendaris, Amelia Earhart, dengan tingkat kepastian 99 persen. Sebelumnya, pilot perempuan pertama yang tercatat dalam sejarah dunia itu lenyap di suatu tempat yang tak diketahui saat sedang melakukan penerbangan melintasi Samudera Pasifik selama perjalanan keliling dunianya di tahun 1937. Baik Earhart maupun Fred Noonan sang navigatornya tidak pernah ditemukan hingga saat ini. Demikian pula dengan bangkai pesawatnya.
Namun, setelah beberapa dekade melakukan spekulasi, Richard Jantz, dari University of Tennessee di Knoxville, mengklaim bahwa kerangka tubuh yang ditemukan di sebuah pulau di Samudera Pasifik pada tahun 1940 adalah ’99 persen kemungkinan’ merupakan milik Earhart. Richard Jantz sendiri merupakan seorang ahli biologi.
Saat itu, kerangka mereka ditemukan di Pulau Gardner, yang kini telah berganti nama menjadi Nikumaroro. Melansir laporan Mail Online, kerangka tersebut ditemukan terletak 400 mil di bagian selatan, dekat dari lokasi yang ditargetkan menjadi persinggahan mereka seharusnya, yakni di Pulau Howland.
Kerangka-kerangka ini kemudian dianalisa di British Fiji oleh Dr David Win Hoodless, yang melakukan pengukuran tulang-belulang tersebut, yang belakangan malah menghilang secara misterius.
Sementara itu, Dr Jantz telah membandingkan pengukuran tulang dengan ukuran tubuh Earhart yang akhirnya disimpulkan bahwa keduanya sangat mirip.
“Kami memiliki tiga tulang panjang yang dilaporkan Hoodless. Kemudian kami menyadari ada beberapa cara untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang tulang Amelia Earhart yang dapat dibandingkan langsung dengan tulang yang ditemukan itu,” ujar Dr Jantz.
“Kami bisa mengukur panjang humerusnya dan jarak radiusnya dari foto yang memiliki obyek berskala di dalamnya. Kemudian kami juga memiliki perkiraan panjang tibianya, yang kami dapatkan dari lapisan celana panjangnya dan dari ketinggiannya. Kami bisa membandingkan tiga panjang tulang yang ditemukan dari Nikumaroro ke Amelia Earhart,” ungkapnya kemudian.
“Hasilnya adalah mereka sangat mirip dan tidak mungkin tulang ini milik orang lain yang mirip. Jika posisinya berada di tengah distribusi itu, tidak mungkin saya bisa menyimpulkan bahwa itu adalah dirinya. Kenyataan bahwa dia bukan yang paling dekat tidak masalah sama sekali, karena akan ada kesalahan pengukuran dari ukuran perkiraan saya dan mungkin juga Hoodless juga membuat beberapa kesalahan. Hanya orang acak yang memiliki probabilitas yang sangat tinggi (yang bisa) menyerupai tulang yang ditemukan di Nikumaroro,” tandasnya.
Pencarian oleh TIGHAR

Sementara itu, laporan lain yang dilansir dari Liputan6.com menyebutkan bahwa ahli penerbangan Ric Gillespie dari The International Group for Historic Aircraft Recovery (TIGHAR), juga membenarkan pesawat Amelia jatuh di sebuah pulau di Pasifik.
Amelia yang pada tahun 1932 menyandang pilot wanita pertama yang menyeberangi Samudera Atlantik sendirian, dikabarkan hilang saat mencapai Pulau Howland, 1.700 mil laut di barat daya Honolulu, Hawaii.
Menurut laporan, pencariannya telah menghabiskan jutaan dolar. Namun keberadaan Amelia masih misterius. Memasuki tahun 1939, pemerintah AS menyatakan wanita itu tewas.
Namun, bagi Gillespie dan timnya dari TIGHAR, nasib Amelia sebenarnya sungguh mengerikan. Pasalnya, ia tewas dalam kondisi terbuang dan terluka di pulau di Pasifik.
Melansir Daily Mail, Gillespie mengatakan, Amelia sudah nyaris empat bulan mencapai jam terbang 29.000 mil perjalanan sewaktu ia kehabisan bahan bakar dan mencoba mencari Howland Island.
Amelia dan navigatornya, Fred Noonan, terlihat dalam radar pada 2 Juli 1937. Lalu, kemudian mereka menghilang. Yang terjadi pada pasangan itu menjadi misteri. Namun, Gillespie percaya, mereka tidak jatuh ke air.
Gillespie melanjutkan, kenyataannya, Amelia dan Noonan berhasil mendarat. Mereka terluka namun masih hidup di Pulau Gardner (Nikumoro), sekitar 400 mil tenggara Pulau Howland.
Panggilan Darurat Amelia

“Saat itu, orang-orang mulai mendengarkan panggilan darurat dari sebuah pesawat,” ungkap Gillespie.
Dari mulai 2 Juli jatuhnya Amelia, ada lebih dari 100 kali panggilan darurat yang dilakukan oleh Amelia.
“Dan itu terdengar orang-orang sedunia, dari Texas hingga Australia,” klaim Gillespie.
Mereka yang mendengar juga termasuk seorang ibu rumah tangga di Texas. Ia mendengar suara Amelia lewat radio gelombang pendek yang mengatakan bahwa ia berhasil mendaratkan sebagian badan burung besinya di air.
Sementara itu, pendengar lainnya yakni seorang bocah 16 tahun juga sempat mencoba memecahkan sandi yang diucapkan oleh Amelia.
Menurut Gillespie, Amelia mungkin mendarat dengan bahan bakar yang ada. Jika tidak, ia tak mungkin menggunakan radio.
Menurut saksi mata yang mendengar, Amelia terluka, namun Noonan lebih parah.
“Ia di luar sana meminta pertolongan,” tukas Gillespie.
Namun, jika mereka masih hidup, bagaimana bisa tak ada yang mendengarnya? Panggilan terakhir terjadi pada 6 Juli.
Pada tahun 1940, Gerald Gallagher, tentara Inggris sekaligus pilot melaporkan pada atasannya kalau ia menemukan kerangka di pulau itu.
Tulang belulang itu segera dikirim ke Fiji untuk diinvestigasi. Awalnya, kerangka dan tulang-belulang tersebut diidentifikasikan sebagai pria. Namun setelah ditelaah ulang di tahun 1998, kemungkinan kerangka itu milik wanita tinggi berkulit putih.
Anehnya, tulang belulang itu kemudian dilaporkan hilang.
Anggota TIGHAR yang kebanyakan insinyur dan arkeologi mengklaim mereka menemukan lempengan aluminium yang mirip dengan spesifikasi pesawat 1930-an—yang sudah bisa ditebak, mirip dengan badan pesawat yang diterbangkan oleh Amelia, yang bernama Lockheed Electra.

Ternyata puing berukuran 48 x 58 cm tersebut memang benar-benar cocok dengan komponen struktural Lockheed Electra. Oleh karenanya mereka sangat yakin kepingan ini adalah fragmen dari pesawat Earhart, seperti dikutip dari laman NationalGeographic.co.id.

Namun, pesawat itu sendiri tak ditemukan. Ada kemungkinan sudah terlanjur hanyut ke lautan. TIGHAR sendiri berencana menggunakan kapal selam untuk mencari sisa-sisa pesawat yang hilang. Proyek ini memang diluncurkan dalam rangka 80 tahun hilangnya Amelia.
Dengan demikian, seluruh hasil penemuan ini mematahkan asumsi bahwa Earhart dan navigatornya, Fred Noonan, mengalami kecelakaan di Lautan Pasifik akibat kekurangan bahan bakar. Sebagai kesimpulan akhir para peneliti, mereka diyakini telah melakukan pendaratan darurat di terumbu karang Pulau Nikumaroro.
Peneliti mengungkapkan, mungkin kedua orang ini hidup dalam pulau terpencil itu hingga akhirnya meninggal. Ini didasarkan pada penemuan sejumlah artefak yang menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan di sana—bukti keberadaan mereka di Pulau Nikumaroro. Benda-benda tersebut pun diyakini telah menjawab misteri hilangnya Amelia Earhart.
16.11.00   Posted by Anita Surya in , with No comments

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search