BSD - Rezim Suriah dituduh melancarkan serangan bom kimia di Ghouta Timur. Pemerintah Prancis mengancam akan melakukan intervensi jika tuduhan itu terbukti benar.
Tuduhan itu bermula dari video yang dirilis para aktivis di Ghouta Timur, sebuah daerah pinggiran Ibu Kota Suriah, Damaskus. Video yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bom dijatuhkan di kota pemukiman Hamouriyah.
Para aktivis menyatakan, bom itu merupakan senjata kimia karena dampaknya membuat korban kesulitan bernafas.
”Kemarin malam adalah malam yang paling gelap dan paling mengerikan yang pernah mereka lakukan. Mereka menggunakan fosfor, napalm, bom curah dan gas klorin,” kata Ammar al-Selmo, seorang pekerja bantuan untuk kelompok Pertahanan Sipil Suriah, kepada Al Jazeera melalui telepon dari wilayah kantong oposisi.
”Tim kami panik karena mirip (serangan tahun) 2013, ketika rezim (Presiden Bashar) al-Assad menggunakan senjata kimia di Ghouta,” ujarnya, yang dilansir Jumat (9/3/2018).
Prancis mencermati serius tuduhan terbaru ini. ”Jika penggunaan senjata kimia ditemukan, diverifikasi bahwa penggunaan senjata kimia membuat orang tewas, Prancis akan mengambil tindakan intervensi untuk mencegah perkembangbiakan senjata kimia,” kata Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian, seperti dikutip kantor berita Xinhua.
Pemerintah Suriah yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad menolak tuduhan itu. Menurut rezim Suriah, tuduhan itu merupakah ulah pemberontak yang putus asa dengan mencoba untuk mendistorsi fakta.
Ghouta Timur telah berada di bawah kendali kelompok oposisi bersenjata sejak 2013, dua tahun setelah pemberontakan pecah di Suriah untuk menggulingkan Assad.
Ketika pemerintah menanggapi dengan paksa upaya pemberontakan tersebut, penduduk setempat dan tentara pembelot mengangkat senjata dan berhasil menguasai wilayah-wilayah besar di negara tersebut.
Dengan intervensi Rusia pada tahun 2015, pasukan Assad telah berhasil merebut kembali sebagian besar wilayahnya. Namun, Ghouta Timur tetap dikuasai kubu oposisi bersenjata.
Dalam perkembangan terbaru, pasukan Suriah kini berhasil merebut separuh wilayah Ghouta Timur dari tangan oposisi atau pemberontak setelah melancarkan serangan yang nyaris tanpa henti sejak Februari lalu. Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, korban tewas dari kalangan sipil di Ghouta Timur mencapai lebih dari 800 jiwa.
Kelompok pemantau krisis Suriah itu menambahkan, pada hari Kamis sekitar 13 orang tewas dalam baku tembak.
Abu Salem al-Shami, seorang aktivis di Ghouta Timur, mengatakan kepada Al Jazeerabahwa banyak dari mereka yang terbunuh dan terluka tetap berada di bawah reruntuhan karena kelompok penyelamat kesulitan menarik mereka keluar.
”Pemerintah Suriah melakukan kejahatan dalam segala arti,” kata al-Shami.

0 komentar:
Posting Komentar